Artikel Terbaru
Showing posts with label philosophy. Show all posts
Showing posts with label philosophy. Show all posts

Kumpulan Pemikiran Besar Tokoh-Tokoh Filsafat

Definisi Filsafat

Filsafat adalah bidang studi yang menjelaskan konsep alam dan keyakinan klasik diikuti dengan sistem tertentu. Filsafat adalah disiplin yang unik yang mengeksplorasi dan melintasi melalui beberapa domain kehidupan seperti adanya, alam, agama, Tuhan, etika, psikologi, ilmu, sosiologi, dan pemahaman tentang kebenaran di mana dunia kita tinggal.

Lima Cabang Filsafat

Topik-topik filsafat termasuk dalam kategori yang beragam, namun cabang utama filsafat adalah sebagai berikut:
  1. Metafisika: Studi tentang realitas.
  2. Epistemologi: Teori pengetahuan.
  3. Etika: Terkait dengan prinsip-prinsip benar dan salah.
  4. Logika: Studi tentang penalaran yang tepat.
  5. Estetika: Teori sifat seni.
Tokoh-Tokoh Filsafat dan Pemikirannya

Ilustrasi
Adapun berikut ini beberapa nama tokoh filsafat dengan gagasannya. Mereka terpilih dari ribuan tokoh filsafat, karena memiliki suatu landmark yang baik tentang apa itu filsafat persisnya, dan bagaimana pengaruh mereka dalam keilmuan manusia.

• Sokrates. Memperkenalkan dialektika, yaitu sebuah pandangan bahwa pengetahuan sejati hanya dapat diperoleh melalui dialog; seperti seorang bidan yang membantu kelahiran bayi.
• Plato. Mengajarkan konsep dunia idea: pada dasarnya segala hal yang kita kenal di dunia ini hanyalah "bayangan" dari konsep yang sesungguhnya di dunia idea. Dunia idea dan dunia kita dapat diibaratkan seperti cetakan kue dan kuenya.
• Aristoteles. Memperkenalkan konsep pemikiran deduktif, di mana sebuah pengetahuan diperoleh melalui penarikan kesimpulan atas premis-premis yang ada. (premis 1= semua manusia akan mati, premis 2= Rudi adalah manusia, maka kesimpulannya Budi akan mati)
• Santo Agustinus. Di tengah situasi permusuhan antara agama dan filsafat, ia menegaskan kalau keduanya bersifat saling melengkapi, bukan bertentangan. Ia banyak berbicara mengenai kebaikan Tuhan dan kehendak bebas manusia untuk menjelaskan berbagai pertanyaan mengenai situasi dunia.
• Rene Descartes. Pemikir Perancis ini terkenal dengan jargonnya: cogito, ergo, sum yang berarti aku berpikir maka aku ada. Ia meragukan eksistensi manusia, bahkan eksistensi dirinya sendiri. Bagi Descartes, satu-satunya hal yang bisa ia pastikan eksistensinya hanyalah kesadarannya. Ia juga memperkenalkan konsep dualisme: keterpisahan antara tubuh dan jiwa.
• Thomas Hobbes. Thomas Hobbes terkenal dengan teori Kontrak Sosialnya, yang mengatakan bahwa negara dan masyarakat pada dasarnya terikat oleh sebuah kontrak besar, di mana negara diberi kekuasaan besar sekaligus mandat untuk menciptakan ketentraman dalam kehidupan bermasyarakat.
• Baruch Spinoza. Spinoza berargumen bahwa Tuhan dan alam ini sejatinya satu, kita dapat menemukan Dia dalam tiap ciptaan dan tiap ciptaan ada di dalam Tuhan, seperti kesempurnaan bentuk lingkaran (Spinoza adalah seorang perajin lensa optik). Karena itu bisa dibilang Spinoza termasuk penganut paham Panteisme.
• Auguste Comte. Salah satu filsuf paling berpengaruh pada masanya, Auguste Comte dikenang sebagai pendiri doktrin positivisme. Dan peletak dasar Sosiologi.
• John Locke dan Tabula Rasa. 'Tabula rasa' Ungkapan terkenal digunakan pada basis harian dalam berbagai situasi oleh orang yang berbeda, namun sedikit yang bisa mengidentifikasi perannya dalam sistem filosofis dari orang yang sebenarnya diciptakan ekspresi.
• Friedrich Nietzsche. Tuhan telah mati, barangkali itu sebuah statement paling tersohor dalam filsuf yang ajarannya telah banyak dijadikan justifikasi oleh para diktator seperti Adolf Hitler. Nietzsche sangat menjunjung tinggi kekuatan manusia, yang ia wujudkan dalam konsep ubermensch atau manusia super.
• Soren Kierkegaard. Kierkegaard berpandangan kritis. Ia mengajak setiap orang untuk mempertanyakan, gelisah, dan mencari. Ia pernah melemparkan kritik atas orang yang beragama hanya sebagai ritual tanpa pernah benar-benar menghayati makna imannya. Kierkegaard juga membagi hidup dalam 3 tahap: estetis (tahap di mana orang hanya mencari pemenuhan hasrat), etis (tahap di mana orang tidak lagi menganggap pemenuhan nafsu fisiknya sebagai prioritas utama), dan tahap paling tinggi adalah tahap religius.
• Karl Marx. Salah satu filsuf paling terkenal dan kontroversial. Konsep dasar yang diajukan Marx adalah bahwa dunia ini sebenarnya selalu berada dalam situasi konflik antara pemilik modal (kaum kapitalis) dan buruh (kaum proletar). Karl mengkritik para kapitalis sebagai pihak yang telah mengeksploitasi kaum buruh, menjebak mereka dalam konsumerisme dan alienasi.
• Jean Paul Sartre dan Masalah Kebebasan: Konsep kebebasan memainkan peran penting dalam setiap sistem filsafat, tetapi Sartre tampaknya telah mengambil satu langkah di luar dengan menempatkannya di tengah-tengah ide dan terkejut sezamannya dengan mengatakan bahwa: "Manusia dikutuk untuk bebas".
• Kant dan Berpikir Optimis. Meskipun filsuf terkenal karena fakta bahwa bagi mereka orbit segala sesuatu di sekitar logika, mereka kadang-kadang membuat pengecualian mendukung beberapa aspek lain dari jiwa. Kant jatuh dalam kategori ini .
• Friedrich Nietzsche dan Moralitas Nietzsche adalah salah satu filsuf paling kontroversial dalam sejarah. Ia menolak Kristen dan mengusulkan jenis baru moralitas. Yakni, kebebasan.

Filsafat Hukum Kaum Eksistensialis

Ketika membahas filsafat hukum, hal pertama yang harus kita lakukan adalah memahami dan mendefinisikan hukum secara jelas dan benar. Itu karena kaitan antara hukum dengan filsafat hukum sangat erat. Kehadiran hukum ikut menghadirkan filsafat hukum didalamnya.

Filsafat Hukum dan Kajian Tentang Hukum

A. Sejarah Hukum

Pada awalnya, hukum muncul sebagai kaidah yang mengatur hidup bersama. Zaman dahulu sistem masyarakat tidak sekompleks masa kini sehingga sistem hukumnya barangkali sederhana. Namun, bagaimanapun bentuknya, esensi hukum akan tetaplah sama. Begitupun dengan filsafat hukum.

Hukum yang dimaksud dalam hal ini adalah hukum buatan manusia yang berada dalam suatu instansi yang sah. Hal ini perlu ditegaskan karena seringkali orang menyamaratakan antara hukum dengan moral. Hal ini akan berbeda jika dibahas dari kacamata filsafat hukum.

Theo Huijbers dalam karnyanya Filsafat Hukum mengatakan bahwa kaidah moral biasanya disampaikan secara turun-temurun melalui agama dan budayanya. Tidak diatur bagaimana pelaksanaan dan hukuman bagi yang melanggar.

B. Bentuk Hukum

Wajah hukum dari zaman ke zaman memang memiliki bentuk yang berbeda. Pada zaman klasik, hukum biasanya dianggap sebagai cerminan dari aturan alam (natural of law). Dengan demikian, manusia merupakan objek bagi alam semesta ini dalam menjalankan hukumnya. Oleh karena itu, pandangan materialisme determinis sangat berkembang. Hal itu turut diamini oleh filsafat hukum.

Di abad pertengahan, hukum merupakan peraturan yang memancarkan ketentuan Illahi. Segala hal yang ada di dunia ini sudah diatur oleh Allah sehingga manusia tidak perlu lagi membuat hukum, hanya tinggal menjalankannya. Sementara itu, di zaman modern, hukum seringkali disamakan dengan negara atau aparatus. Walaupun berbeda, hukum harus tetap memegang prinsip yang bersifat idiil dan etis.

C. Definisi Hukum

Definisi hukum yang cukup baik dikemukakan oleh C.S.T. Kansil. Menurutnya, hukum merupakan peraturan-peraturan (perintah-perintah dan larangan-larangan) yang mengurus tata tertib suatu masyarakat dan karena itu harus ditaati oleh masyarakat.

Dalam hal ini, hukum yang ditekankan adalah mengenai hukum yuridis. Hukum yang mempunyai arti yuridis yang sungguh-sungguh adalah hukum yang ditentukan oleh pemerintah suatu negara, yakni undang-undang. Hukum bersifat yuridis ini sedikit banyak juga hadir dalam kajian filsafat hukum.

Mengenal Filsafat Hukum

Filsafat hakikatnya adalah sebuah ilmu. Seperti ilmu yang umumnya memiliki banyak cabang, filsfata pun demikian. Filsafat hukum adalah salah satu cabang filsafat yang lahir dari pemikiran tokoh-tokoh filsafat terdahulu.

Pengertian filsafat sendiri adalah ilmu filosofi. Sehingga, berdasarkan pengertian tersebut, sudah dapat ditafsirkan apa itu pengertian dari filsafat hukum. Filsafat hukum filsafat mengenai tingkah laku atau etika seseorang yang memelajari hakikat ilmu hukum. Secara sederhana, filsafat hukum adalah memelajari hukum atau memandang hukum secara filosofi. Objek dari filsafat hukum tentu saja adalah hukum. Hukum yang dipelajari dalam filsafat hukum biasanya dikaji secara mendalam hingga inti permasalahan atau inti dari ilmu hukum.

Jika dilihat dari pengertian seperti itu, dapat disimpulkan jika sebenarnya ilmu hukum dan filsafat hukum itu tidak sejalan. Jika hukum memelajari sesuatu hal yang konkret dan dapat secara langsung diamati oleh indera manusia, maka filsafat hukum lebih memelajari hukum secara hakikat.

Jika ilmu hukum lebih konkret daripada filsafat hukum, lalu apa manfaat memelajari filsafat hukum? Filsafat hukum berbeda dengan jenis filsafat apapun. Filsafat hukum mengajarkan manusia untuk berpikir secara luas mengenai pendapat serta pendirian orang lain. Filsafat hukum juga akan membiasakan kita untuk berpikir secara kritis dan radikal. Filsafat hukum, juga bersifat spekulatif, sehingga kita bisa mengemukakan pendapat secara bebas mengenai hal yang berkenaan dengan hukum.

Eksistensialisme dan Filsafat Hukum

Sebagai suatu aliran filsafat hukum, eksistensialisme berangkat dari manusia sebagai subjek yang independen. Oleh karena itulah, kaum eksistensialis memandang hukum sebagai produk yang tidak dapat dilepaskan dari keberadaan manusia.

Eksistensialisme sendiri muncul dari kritik terhadap pemikiran absolutisme Hegelian. Pandangan Hegel yang begitu idealistik menyebabkan manusia sebagai individu tidak diberikan tempat di dunia ini. Pandangan Hegel yang seperti itu cukup erat kaitannya dengan filsafat hukum.

Menurut Huijbers, pertama-tama manusia dimengerti secara objektif-abstrak, yakni dalam definisi yang terkenal: animal rationale. Kemudian, manusia dimengerti dalam konsep subjektif-abstrak dalam: cogito ergo sum, tekanan terletak dalam kehidupan batin. Dalam filsafat eksistensi, manusia dimengerti secara subjek-konkret: manusia adalah subjek di dunia.

Salah seorang ahli hukum yang menganut faham eksistensialis adalah Hans Maihofer. Pandangan tentang eksistensialisnya dipengaruhi oleh filsuf Jerman, Martin Heideger. Menurut Heideger manusia dilukiskan sebagai suatu subjek individual yang harus mengembangkan diri secara objektif. Filsafat hukum memang bersifat memengaruhi, jika ada satu pemikiran yang dianggap cocok, maka biasanya pemikiran atau paham tersebut akan banyak mengilhami para pemikir lainnya.

Oleh karena itu, hukum ditanggapi sebagai penghambat kebebasan individual dalam mengembangkan dirinya. Namun, jika manusia dibiarkan untuk menjalankan kehidupannya seperti yang ia inginkan, akan terjadi kekacauan. Tiap individu akan melaksanakan kebebasannya dan akan terjadi benturan antar kebebasan.

Oleh karena itu, menurut Maihofer harus dicari unsur lain dalam kehidupan manusia yang membuka jalan bagi suatu pandangan positif terhadap hukum. Ia juga mengatakan bahwa perkembangan hidup bersama itu merupakan syarat mutlak bagi perkembangan eksistensi tiap-tiap pribadi. Pemikiran untuk mencari jalan lain agar hukum dipandang sebagai satu hal yang positif juga menjadi pemikiran yang dipelajari dalam filsafat hukum.

Tesis utama yang disampaikan Maihofer berkenaan dengan hukum antara lain: pertama, hukum mengatur hak milik individu yang dalam hukum positif disebut hak benda zakenrecht, kedua, hukum mengatur hubungan satu individu dengan individu lain. Hal-hal tersebut secara langsung juga ikut membahasa filsafat hukum didalamnya. Yang pertama bersumber dari asumsi bahwa manusia ada sebagai sesuatu yang unggul karena kebebasan individualnya, dan yang kedua karena kodratnya sebagai mahkluk sosial dalam hubungannya dengan sesama manusia.

Pandangan Maihofer mengenai manusia sebagai eksistensi individu jauh-jauh hari sudah dipakai oleh para filsuf dalam membangun konsep hukum dan negara. Individu dijadikan sebagai titik tolak berpikir tentang hukum dan negara sehingga keberadaan negara tidak lain untuk individu yang ada di dalam masyarakat, atau lebih tepatnya "negara ada untuk masyarakat, bukan masyarakat untuk negara".

John Locke misalnya, menjadikan eksistensi manusia sebagai dasar bagi pemikiran tentang negara alamiah. Menurut Locke, pada dasarnya manusia sudah dibimbing nalar dan bersifat baik. Manusia hidup bersama sesuai pertimbangan nalar mereka, tanpa adanya pihak-pihak yang beroposisi di antara mereka di dunia, dan masing-masing berwenang untuk saling menilai sesamannya -itulah gambaran negara alami-.

Walaupun sama bermula dari pandangan tentang eksistensi manusia, menurut Hobbes, pada dasarnya manusia adalah jahat sehingga perlu adanya suatu aturan atau negara yang bisa mengendalikannya. Pada akhirnya, Hobbes menghendaki negara yang keras dan totaliter atau yang lebih dikenal negara Leviathan. Bagaimanapun keadaannya, filsafat hukum nyatanya tetap "eksis" mendampingi berkembangnya ilmu hukum. Meskipun ilmu hukum lebih memelajari hal-hal yang konkret, dasar-dasar pemikiran tentang hukum tetap saja hanya akan diperoleh ketika kita memelajari filsafat hukum.

Filsafat Etika

Dalam sejarah perkembangan ilmu, Filsafat etika merupakan aliran pertama dalam filsafat, dengan Socrates -sang mahaguru para filsuf- sebagai pelopornya. Ada dua pertanyaan penting yang mendasari filsafat etika, yaitu:
  1. Apa yang dimaksud hidup yang baik itu? What is the good life?
  2. Bagaimana kita bertingkah laku? How should we act?
Pada perkembangan selanjutnya, pembahasan dalam filsafat etika berkutat pada tiga “rukun” yang senantiasa ada dalam sebuah perbuatan, sebagai jawaban dari dua pertanyaan inti tersebut, yaitu:
  1. Pelaku atau orang yang melakukan tindakan (agent)
  2. Tindakan atau kelakuan (deontologis)
  3. Akibat dari perbuatan tersebut (effect)
Apa maksudnya? Anda tentu masih bingung dengan poin-poin yang disebutkan di atas, bukan? Tenang, apa yang Anda rasakan memang wajar, karena poin-poin tersebut memang belum diuraikan lebih jauh dan belum memiliki penjelasan sama sekali. Untuk itu, agar tidak membingungkan, kita akan berusaha mengurai tiap poin tersebut dalam bahasan berikut.

Rukun Pertama dalam Filsafat Etika - Agent

Menurut para penganut rukun yang pertama, sesuatu itu dikatakan baik dan benar kalau dilakukan oleh orang-orang yang baik. Jadi, baik dan buruk sangat ditentukan oleh pelaku atau subjek. Rukun pertama filsafat etika ini kemudian melahirkan aliran-aliran dalam etika, di antaranya legalisme (etika hukum), bahwa baik dan buruk ditentukan sepenuhnya oleh hukum.

Sebagai penduduk yang tinggal di negara hukum, tentu tidak sulit memahami rukum iman pertama filsafat etika ini. Kita bisa dengan mudah melihat sesuatu itu baik atau buruk berdasarkan atas melanggar atau tidaknya perbuatan tersebut kepada hukum. Misal, kita dapat dengan mudah menyebutkan bahwa pencurian adalah salah satuetika yang buruk karena jelas-jelas melanggar hukum.

Namun, jika melihat sesuatu berdasarkan pada rukun filsafat etika yang pertama ini, tentunya akan sulit menjelaskan mengenai etika yang dilakukan oleh (mantan) orang jahat yang mencoba berbuat baik. Akan selalu ada anggapan negatif yang menempel pada (mantan) orang jahat ketika berbuat baik sekalipun.

Rukun Kedua dalam Filsafat Etika - Deontologis

Pandangan penganut rukun pertama dalam filsafat etika berbeda dengan penganut rukun filsafat etika yang kedua. Menurut mereka, baik dan benar sangat didasarkan pada tindakan atau perbuatan itu sendiri, bahwa perbuatan yang baik itu sudah baik dari sananya, terlepas dari siapa pelakunya dan apa akibatnya.

Berlaku jujur itu adalah baik dan ia tidak bisa diganggu gugat. Menolong orang itu merupakan sebuah kebaikan, baik itu dilakukan oleh seorang pencuri maupun seorang kiai.

Rukun kedua filsafat etika ini kemudian melahirkan beberapa aliran etika, semacam virtue ethics yang menyatakan bahwa benar dan salah itu didasarkan pada perbuatan-perbuatan yang bisa membawa orang menjadi lebih baik.

Rukun Ketiga dalam Filsafat Etika - Effect

Adapun menurut rukun dalam filsafat etika yang ketiga, baik dan benarnya suatu perbuatan didasarkan pada akibat yang ditimbulkannya. Suatu perbuatan dianggap baik apabila membawa akibat (konsekuensi) yang baik dan menguntungkan.

Sebaliknya, suatu perbuatan dianggap buruk apabila membawa akibat yang buruk dan tidak menguntungkan -baik bagi diri sendiri maupun orang banyak. Rukun etika yang ketiga ini melahirkan aliran-aliran semacam egoisme, emotivisme, hedonisme. Ketiganya menekankan pada kebaikan, kepuasan diri, dan utilitarianism yang menyatakan bahwa suatu perbuatan disebut baik kalau membawa manfaat bagi sebanyak-banyaknya orang.

Makna Filsafat Estetika

Filsafat estetika adalah cabang ilmu yang membahas masalah keindahan. Bagaimana keindahan bisa tercipta dan bagaimana orang bisa merasakannya dan memberi penilaian terhadap keindahan tersebut. Maka filsafat estetika akan selalu berkaitan dengan antara baik dan buruk, antara indah dan jelek. Bukan berbicara tentang salah dan benar seperti dalam filsafat epistemologi.

Secara etimologi, estetika diambil dari bahasa Yunani, aisthetike yang berarti segala sesuatu yang diserap oleh indera. Filsafat estetika membahas tentang refleks kritis yang dirasakan oleh indera dan memberi penilaian terhadap sesuatu, indah atau tidak indah, beauty or ugly. Estetika disebut juga dengan filsafat keindahan.

Filsafat estetika pertama kali dicetuskan oleh Alexander Gottlieb Baumgarten (1975) yang mengungkapkan bahwa estetika adalah cabang ilmu yang dimaknai oleh perasaan. Filasafat estetika adalah cabang ilmu dari filsafat Aksiologi, yaitu filsafat nilai. Istilah Aksiologi digunakan untuk menberikan batasan mengenai kebaikan, yang meliputi etika, moral, dan perilaku. Adapun Estetika yaitu memberikan batasan mengenai hakikat keindahan atau nilai keindahan.

Kaum materialis cenderung mengatakan nilai-nilai berhubungan dengan sifat-sifat subjektif, sedangkan kaum idealis berpendapat nilai-nilai bersifat objektif. Andaikan kita sepakat dengan kaum materialis bahwa yang namanya nilai keindahan itu merupakan reaksi-reaksi subjektif. Maka benarlah apa yang terkandung dalam sebuah ungkapan “Mengenai masalah selera tidaklah perlu ada pertentangan”.

Serupa orang yang menyukai lukisan abstrak, sesuatu yang semata-mata bersifat perorangan. Jika sebagian orang mengaggap lukisan abstrak itu aneh, sebagian lagi pasti menganggap lukisan abstrak itu indah. Karena reaksi itu muncul dari dalam diri manusia berdasarkan selera.

Berbicara mengenai penilaian terhadap keindahan maka setiap dekade, setiap zaman itu memberikan penilaian yang berbeda terhadap sesuatu yang dikatakan indah. Jika pada zaman romantisme di Prancis keindahan berarti kemampuan untuk menyampaikan sebuah keagungan, lain halnya pada zaman realisme keindahan mempunyai makna kemampuan untuk menyampaikan sesuatu apa adanya. Sedangkan di Belanda pada era de Stijl keindahan mempunyai arti kemampuan mengomposisikan warna dan ruang juga kemampuan mengabstraksi benda.

Pembahasan estetika akan berhubungan dengan nilai-nilai sensoris yang dikaitkan dengan sentimen dan rasa. Sehingga estetika akan mempersoalkan pula teori-teori mengenai seni. Dengan demikian, estetika merupakan sebuah teori yang meliputi:
  • Penyelidikan mengenai sesuatu yang indah;
  • Penyelidikan mengenai prinsip-prinsip yang mendasari seni;
  • Pengalaman yang bertalian dengan seni, masalah yang berkaitan dengan penciptaan seni, penilaian terhadap seni dan perenungan atas seni.
Dari pernyataan di atas, estetika meliputi tiga hal, yaitu, fenomena estetis, fenomena persepsi, dan fenomena studi seni sebagai hasil pengalaman estetis.

Filsafat Ibnu Sina

Pada awal keberadaan agama islam, telah banyak muncul ilmuwan diberbagai bidang, mulai kedokteran, matematika hingga ilmu perbintangan. Salah satu ilmuwan islam yang mempunyai peran yang besar dalam kehidupan modern saat ini salah satu yang memiliki nama lengkap adalah Abu Ali al-Husayn bin Abdullah bin Sina (980-1037 M). Lebih dikenal dengan nama Ibnu Sina (Avicenna).

Ibnu Sina yang mempunyai latar belakang dari keluarga bermadzhab Ismailiyah memang sudah akrab dengan pembahasan yang berkenaan dengan hal yang ilmiah dimana hal itu disampaikan secara langsung oleh ayahnya. Ibnu Sina memang terkenal kecerdasannya sejak di masih kecil, sehingga banyak para guru yang mengajarnya mengetahui kelebihan dari muridnya satu ini.

Dalam perjalanan hidupnya, ibnu sina tidak hanya sebagai bapak kedokteran modern, Ibnu Sina juga merupakan filosof terbesar Islam yang berhasil membangun sistem filsafat secara sistematis. Filsafat Ibnu Sina membahas hal-hal yang berkaitan dengan metafisika. Ibnu sina berhasil menjadi ilmuwan yang mempunyai berbagai kelebihan pada berbagai bidang disiplin ilmu pengetahuan.

Filsafat Metafisika

Ibnu Sina adalah filosof yang merumuskan kembali pemikiran rasional murni dan tradisi intelektual Hellenisme (Yunani). Lalu, ia padukan dengan keyakinan agama yang dianut (Islam). Ibnu Sina tertarik mengupas salah satu cabang dari ilmu filsafat, yaitu metafisika.

Metafisika dari akar katanya berarti "di balik yang ada". Atau membahas segala yang tak tampak wujudnya oleh indera manusia. Dengan kata lain, metafisika merupakan filsafat yang membahas segala hal-hal "ghaib" atau di luar jangkauan indera manusia. Pertama kali diperkenalkan oleh Aristoteles (filosof klasik Yunani) dalam bukunya yang juga berjudul Metafisika. Dengan dasar itulah ibnu sina mengembangkan keilmuan metafisikan untuk membandingkan dengan agama yang dianutnya yaitu agama islam.

Hanya saja, jangan samakan pengertian metafisika dengan hal-hal klenik atau perdukunan. Metafisika-nya Ibnu Sina merupakan upaya dalam menelusuri kebenaran hingga batas kemampuan logika manusia. Dalam pengembangannya ialah untuk mengetahui kebenaran dalam agama islam yang masih bisa ditelusuri dalam ranah akal manusia.

Ibnu Sina lebih menekankan rasionalitas (logika) daripada keyakinan buta (fanatik). Di sinilah ia banyak mendapat kritik dan sikap antipati dari kalangan muslim ortodoks. Bahkan, Ibnu Sina dituduh ateis. Jika ditelusuri lebih mendalam, apa yang di inginkan oleh ibnu sina hanyalah untuk mengetahui kebenaran ajaran agamanya dalam ranah kejernihan akal manusia, dengan ini diharapkan misteri-misteri mengenai ajaran agama islam dapat terpecahkan ke dalam tingkat pemikiran logika akal manusia.

Karena itu, nama dan pengaruh Ibnu Sina lebih dikenal di Barat daripada di Timur. Terutama ketika buku-bukunya, seperti As- Syifa', Nafat, Qanun, Sadidiyya, Al-Musiqa, dan puluhan buku lainnya, diterjemahkan ke bahasa Latin. Di Barat, Ibnu Sina jadi salah satu peletak dasar perkembangan filsafat abad pertengahan. Maka tidaklah heran kepopuleran ibnu sina lebih mencorong dalam dunia ilmu pengetahuan di bangsa barat bahkan lebih dikenal dengan nama Avicenna-penyebutan bangsa barat terhadap salah satu ilmuwan islam ini.

Filsafat Jiwa dan Filsafat Wujud

Bahasan tentang jiwa telah jadi fokus utama Ibnu Sina dalam filsafatnya. Memang, pemikirannya banyak dipengaruhi oleh filsafat Aristoteles, Galius atau Plotinus. Diartikan jiwa sebagai bagian yang bukan merupakan jasmaniah (immaterial) dari seorang individu. Dalam penjelasan jiwa dapat dipercaya mencakup pikiran dan kepribadian seseorang. Selain itu jiwa mempunyai persamaan arti atau sinonim dengan roh, akal, atau awak diri.

Tetapi, ia memadukan dan mengolah semuanya itu dengan corak khas filsafatnya sendiri. Yang dikenal dengan filsafat iluminasi (faham pancaran). Membahas dengan terperinci dan gamblang mengenai hakikat jiwa, pertalian jiwa dengan badan dan keabadian jiwa. Hubungan antara jiwa dengan raga pada setiap individu manusia berusaha dikupas secara mendalam oleh ilmuwan yang lahir pada tahun 370 Hijriyah dan pada akhirnya menjelaskan mengenai keabadian jiwa manusia yang akan dipertanggungjawabkan di zaman lain.

Dalam filsafat jiwa ini, Ibnu Sina juga membagi jiwa menjadi tiga jenis, yaitu sebagai berikut.
  1. Jiwa tumbuh-tumbuhan. Jiwa yang hanya memilki daya (kekuatan) untuk makan, tumbuh, dan berkembang biak.
  2. Jiwa binatang. Jiwa dengan daya gerak, menangkap (persepsi), indera, representasi (menyimpan apa yang diterima oleh indera), imaginasi (menyusun apa yang disimpan dalam representasi), estimasi (menangkap hal-hal abstrak), dan rekoleksi (menyimpan hal-hal abstrak yang diterima estimasi).
  3. Jiwa manusia. Jiwa dengan daya kompleks. Selain memiliki daya-daya sebelumnya (jiwa tumbuh-tumbuhan dan binatang), jiwa manusia mengeksplorasi segala hal abstrak. Kemampuan ini oleh Ibnu Sina diterjemahkan sebagai akal.
Selanjutnya Wujud adalah yang terpenting, dan mengalahkan esensi. Penjelasannya, esensi ada dalam akal, sedangkan wujud di luar akal. Wujud membuat esensi yang sebelumnya berada di dalam akal, jadi mempunyai kenyatan di luar akal. Penjabarannya wujud diartikan sebagai sesuatu yang nyata, bias dilihat oleh indera penglihatan makhluk hidup. Dengan begitu menunjukkan bahwa wujud mampu menampakkannya di hadapan makhluk hidup secara realitas.

Tanpa wujud, esensi tidak memiliki arti apa-apa. Karenanya, wujud menjadi lebih penting daripada akal. Demikian bunga rampai pemikiran Ibnu Sina mengenai keutamaan wujud. Dijelaskan lebih lanjut bahwa wujud mempunyai peran yang besar dalam kehidupan manusia dimana tanpa keberadaannya maka tidak mempunyai makna apa-apa.

Dalam perwujudannya, akal tidak memiliki peran yang berarti tanpa didukung oleh keberadaan suatu obyek atau lebih dikenal dengan wujud tersebut. Maka kedua hal tersebut harus berjalan beriringan agar pemaknaan suatu gejala atau obyek dapat berlangsung dengan baik. Dapat diambil garis besar bahwa wujud memiliki peran yang sangat signifikan dalam teori filsafat yang dikemukakan oleh Ibnu Sina ini.

Untuk itu, Ibnu Sina dikenal sebagai pelopor filsafat eksistensialisme. Jauh sebelum filsafat eksitensialisme didengungkan oleh Martin Heidegger dan Soren Kierkegaard, tokoh eksistensialis filsafat modern. Hal ini menunjukkan bahwa ibnu sina menjadi salah seorang ilmuwan yang mampu menjadi pionir bagi agama islam dengan kecerdasannya dalam bidang ini.

Filsafat Wahyu dan Nabi

Selain jiwa dan wujud, filsafat Ibnu Sina juga mengupas tentang wahyu dan nabi. Dari empat jenis akal yang ia kemukakan, yaitu akal materil, akal intelektual, akal aktuil, dan akal mustafad, mengarahkan manusia untuk merengkuh akal aktif. Berbagai elemen akal yang dijelaskan oleh ibnu sina menunjukkan bahwa beliau ingin mendefinisikan tingkatan akal ke dalam ranah yang berbeda-beda dimana bisa dilihat dari cara penggunaan akal tersebut.

Pada dasarnya dengan pengklasifikasian beberapa jenis akal tersebut akan bermuara pada satu tujuan yaitu akal aktif. Jenis akal (akal aktif) yang menurut Ibnu Sina memiliki karakteristik untuk mudah menerima cahaya atau wahyu dari Tuhan. Akal serupa ini mempunyai daya suci, bentuk akal tertinggi dan hanya dimiliki oleh nabi-nabi. Dijabarkan lebih lanjut bahwa akal aktif mempunyai cirri-ciri tertentu dimana tidak setiap manusia mampu memiliki akal tersebut, seperti paparan sebelumnya yang menunjukkan bahwa akal ini hanya dimiliki oleh nabi-nabi saja.

Keberadaan akal seharusnya mampu dijalankan manusia dengan berbagai potensi yang ada serta tidak meneruskan kepada tingkat pemikiran yang tidak memiliki ujung atau batas untuk berfikir, bagaimanapun akal pasti mempunyai keterbatasan sehingga manusia tidak akan mampu berfikir segala hal hanya dengan akal saja.

Untuk itu, Ibnu Sina berkesimpulan bahwa tidak ada agama yang hanya berdasarkan akal semata (murni). Akal bersimbiosis dengan wahyu dan diterjemahkan oleh nabi. Lalu, kebenaran pun bisa terungkap dengan jelas. Begitulah Ibnu Sina mencoba menjelaskan hubungan wahyu dan nabi dalam perspektif filsafatnya.

Arti Hidup Dalam Lintas Pemikiran

Banyak orang belum memahami arti hidup seutuhnya. Ada tiga pertanyaan esensi yang bisa membuat kita merenung, yaitu "darimana kita berasal?", "untuk apa kita di dunia?", dan "ke mana kita pergi setelah di dunia?". Ketiga pertanyaan itu sudah sejak lama menjadi bahan renungan diberbagai kalangan, sebab pada dasarnya ketiga pertanyan tersebut mewakili ratusan bahkan ribuan pertanyaan yang terkait masalah arti hidup di dunia ini.

Darimana Kita Berasal?

Bila pertanyaan ini ditanyakan pada ahli biologi pastilah akan dijawab berasal dari proses percampuran sel sperma dan sel telur yang menghasilkan embrio atau calon si jabang bayi di dalam rahim. Namun pertanyaan tersebut memiliki jawaban berbeda bila ditanyakan kepada ilmuwan dari disiplin ilmu yang berbeda.

Tak mengherankan bila pertanyaan mendasar ini telah melahirkan banyak teori dan pendekatan dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Berikut ini adalah beberapa contoh yang berusaha menjelaskan asal usul tentang kehidupan manusia, di antaranya:

1. Versi Agama Islam
Menurut ajaran Islam, manusia bukan hanya terdiri dari unsur fisik daging dan tulang belulang, tetapi juga unsur jiwa (nafs) yang berasal dari Allah. Jadi jauh sebelum manusia hadir di muka bumi ini manusia telah hidup di alam arwah. Di saat itulah manusia melakukan perjanjian azali dengan Allah berdasarkan ayat di bawah ini:

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Benar!" (Engkau Tuhan kami), kami mengambil kesaksian. (Kami lakukan yang demikian itu), agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (Keesaan Allah)". (QS al-A'raf: 172).

Jadi, asal usul manusia menurut versi Islam berasal dari alam ruh setelah diciptakan oleh Allah dan sebelum dilahirkan di dunia ini. Adapun ayat-ayal Al Qur'an yang berkenaan dengan asal-usul manusia adalah sebagai berikut.
  • "Dari (tanah) itulah Kami, membentuk kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain." (QS 20:55)
  • "Maka sesungguhnya Kami telah membentukmu dari tanah gemuk (soil)." (QS 22 :5)
  • "Dialah yang membentuk kamu dari lempung." (QS 6 :2)
  • "(Tuhan) memulai penciptaan manusia dari lempung." (QS 32:7)
  • "Sesungguhnya Kami telah membentuk mereka dari lempung yang pekat." (QS 37:11)
  • "Dia membentuk manusia dari lempung, seperti tembikar." (QS 55:14)
  • "Tuhanmu sajalah yang telah membentuk kamu dari setunggal diri dan darinya menciptakan istrinya." (QS 4:1)
  • "Dan Dia (pula) yang membentuk manusia dan air, maka Dia jadikan pertalian keturunan (oleh laki-laki) dan kekeluargaan oleh wanita." (QS 25:54)
2. Versi Evolusionis
Evolusionis adalah para ilmuwan yang mendukung Teori Evolusi dari Darwin. Menurut mereka asal usul manusia yang hidup saat ini adalah hasil evolusi dari nenek moyang manusia yaitu manusia purba yang hidup ribuan tahun lalu di saat masih berwujud kera. Teori ini berdasarkan penemuan berbagai macam fosil manusia purba seperti Homo Erectus Paleojavanicus, Homo Soloensis, Manusia Neanderthal, Cro Magnon, Manusia Peking, dan lain-lain.

Menurut para evolusionis ini ada missink link atau mata rantai yang hilang antara manusia kera di atas dengan manusia modern (homo sapiens) seperti sekarang ini. Karena begitu menggebu-gebunya mendukung teori ini terkadang mereka ceroboh dan seperti memaksa agar teorinya diakui seperti yang terjadi pada kasus Manusia Piltdown.

Manusia Piltdown yang ditemukan oleh seorang ahli palaentologi bernama Charles Dawson pada 1912 dan diklaim sebagai missing link yang selama ini dinantikan oleh para pendukung teori evolusi. Setelah penemuan fenomenal Charles Dawson sudah banyak penafsiran serta gambar rekonstruksi dibuat. Bahkan tak kurang 500 tesis doktor dan artikel ilmiah yang membahas tentang manusia Piltdown ini.

Namun pada tahun 1953, berdasarkan hasil pengujian secara terungkap bahwa tulang tengkorak tersebut berasal dari manusia yang hidup beberapa ribu tahun yang lalu, sedangkan tulang rahangnya berasal dari bangkai kera yang baru terkubur beberapa tahun sebelimnya. Agar terlihat mirip manusia gigi-giginya ditambahkan lalu persendiannya disumpal, kemudian seluruh fosil diwarnai dengan potasium dikromat sehingga tampak kuno.

3. Versi King James (KJV)
Di dalam terjemahan Alkitab King James Version (KJV) tepatnya di Kejadian 1:1, 2 terdapat ayat yang berbunyi: "Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi", serta "Bumi tanpa bentuk dan kosong dan kegelapan menutupi permukaan laut".

Sebagian orang menafsirkan kalimat terjemahan ini dengan menyatakan bahwa kehidupan eksis di dunia ini telah ada jutaan tahun sebelum umat manusia muncul. Ayat ini juga menggambarkan suatu "penciptaan rangkap", yaitu teori "penghancuran dan pemulihan". Sebagian kalangan Kristen ini berspekulasi bahwa Satan adalah penguasa penciptaan pertama ini. Namun, dikarenakan pembangkangannya, Bumi ini kemudian menjadi tanpa bentuk dan kosong.

Lalu, di ayat selanjutnya dimulailah penciptaan kedua seperti bumi kita yang sekarang. Jadi intinya adalah manusia merupakan penciptaan langsung dari Tuhan. Selain ayat di atas, beberapa ayat lainnya dalam Alkitab yang berkenaan dengan asal usul manusia dan penciptaan bumi adalah sebagai berikut:
  • Mikha 5:2, (KJV) : menerangkan seorang pemerintah (Kristus) yang keberadaannya adalah "sejak purbakala, sejak dulu kala (kekekalan)" (lihat juga lbrani 1:8).
  • Ayub 38:7 : Menunjukkan bahwa anak-anak Allah sudah ada sebelum penciptaan bumi ini, mereka ada di sana untuk menyanyi dan bersorak-sorai karena kesukaan atas penciptaan.
  • Mazmur. 45:7, 93:2 : Takhta Allah, yang ada di surga, telah ada dari sejak kekekalan Surga juga adalah tempat tinggal para malaikat, yang tampaknya telah diciptakan sebelum bumi diciptakan.
  • Yohanes 3:8 : Iblis berbuat dosa dari mulanya, "mulanya" kejahatan Lusifer ini mendahului enam hari penciptaan (lihat Yeh. 14; Yeh. 28);
Dengan ini jika melihat isi dari Yohanes 3:8 kita dapat menarik kesimpulan bahwa penciptaan para malaikat mendahului penciptaan kehidupan di atas bumi ini. Ayat-ayat di atas menjelaskan bahwa Allah Tuhan Bapa, Tuhan Anak, dan Roh Kudus sudah ada sejak kekekalan. Sedangkan surga, bintang-bintang, Lusifer, para malaikat, dan barangkali mahluk-mahluk lainnya sudah ada sebelum planet kita diciptakan.

Untuk Apa Kita Hidup di Dunia?
Banyak orang berkeluh kesah tentang untuk apa sebenarnya kita hidup di dunia. Bagaimana menjalani kehidupan ini yang sebenarnya dan apa saja yang harus kita laukan selama jantung masih beredetak? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang terkadang membuat seseorang menjadi frustasi, depresi hingga bunuh diri. Berikut ini beberapa orang yang memaknai arti hidup berdasarkan versi mereka masing-masing, di antaranya:

1. Versi Agama Islam
Sebagai agama yang haq, Islam menegaskan bahwa tujuan hidup manusia di dunia adalah untuk mengabdi atau beribadah kepada Allah. Maksudnya adalah dengan mengabdi kepada Allah adalah taat dan patuh terhadap seluruh perintah Allah, dengan cara menjalankan seluruh perintah-perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya dalam segala aspek kehidupan.

Dalam hal ini, Allah Swt. menjelaskan dalam firman-Nya, bahwa tujuan hidup manusia adalah semata-mata untuk mengabdi (beribadah) kepada-Nya (QS. Adz-Dzariyat ayat 56 dan QS. Al-Bayyinah ayat 5).

2. Versi Aristoteles
Menurut buku Ethika Nicomachea yang disusun Aristoteles, seorang filsuf dari Yunani, tujuan hidup manusia di dunia adalah mencari kebahagiaan (eudaimonia). Menurutnya, orang yang sudah bahagia tidak memerlukan apa-apa lagi, dan tidak masuk akal jika orang yang sudah bahagia itu masih ingin mencari sesuatu yang lain.

3. Versi Plato
Tujuan hidup seseorang menurut Plato ialah mencapai kesenganan hidup, namun yang dimaksud dengan kesenangan hidup bukanlah semata mata memuaskan hawa nafsu didunia ini. Kesenangan hidup yang hakiki akan didapat dengan pengetahuan. Orang yang berpengetahuan tinggi dengan sendirinya akan berbudi baik.

Kemana Kita Pergi Setelah Meninggalkan Dunia?

Setiap manusia di dunia selalu kebingungan ketika terlintas dalam benak mereka tentang sebenarnya setelah kita meninggal dunia alias menghadapi kematian akan hendak kemana. Banyak pula versi dari sudut pandang tertentu ya ng memaparkan arti sebenarnya tujuan kita kemana setelah meninggal nanti, di antaranya:

1. Versi Agama Islam
Menurut Agama Islam setelah kehidupan di dunia, manusia akan menuju surga atau neraka. Seseorang akan menempati surga atau neraka tergantung pada amalnya selama hidup di dunia. Seseorang yang banyak beramal tempatnya adalah surga. Sebaliknya bagi manusia yang lalai dan buruk amalnya maka tempatnya adalah neraka. Oleh karena itu, selama di dunia ini manusia akan selalu diuji, sebagimana yang termaktub pada ayat di bawah ini:

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan bagi manusia, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. (Al-Kahfi : 7)

2. Versi Agama Hindu dan Budha
Menurut kedua agama ini, setelah kehidupan di dunia akan ada kehidupan yang berulang atau reinkarnasi. Menurut Hindu putaran reinkarnasi ini tidak ada putusnya atau transmigrasi Jiwa. Sedangkan menurut Budha putaran reinkarnasi ini akan terputus bila telah tercapainya kesempurnaan hidup dan selanjutnya manusia akan hidup abadi di Nirwana.

3. Versi Ajaran Taoisme
Menurut ajaran Taoisme, setiap manusia terdiri dari Yang Chi atau Arwah serta Ying Chi atau Fisik. Setelah manusia meninggal, maka Yang Chi akan keluar meninggalkan Ying Chi. Namun bila menjalani ritual yang benar selama di dunia maka Yang Chi bisa menuju tempat leluhurnya yang tepat dan Ying Chi pun akan menemukan ke damaian yang abadi.

Dari uraian mengenai arti hidup di atas, sudah sewajarnya kita semua mengambil hikmah dan menjalani kehidupan sehari-hari dengan sebaik mungkin. Tanpanharus memusingkan dengan berbagai pertanyaan yang sekiranya tidak mampu kita jangkau untuk menjawabnya

Tokoh Dan Aliran Filsafat Manusia

Filsafat manusia bisa diartikan sebagai sebuah pandangan tentang hakekat yang sebenarnya dari keadaan dan kehidupan manusia beserta dengan segala kaitanya yang telah dirumuskan melalui sebuah proses berfikir secara mendalam.

Filsafat sendiri biasanya digunakan oleh para penganutnya sebagai bahan sandaran untuk melakukan sebuah tindakan dan sebagai sandaran dalam pengambilan keputusan. Para penganut paham filasafat mendalami ilmu ini tidak dengan melakukan berbagai eksperimen sebagaimana layaknya orang yang sedang belajar ilmu eksak.

Akan tetapi mereka cenderung mengungkapkan masalah yang terjadi secara detail apa adanya dan berusaha mencari solusi atau penyelesaian dari masalah yang ada tersebut dengan mengemukakan argumentasi dan lasan-alasannya.

Filsafat manusia merupakan sebuah hasil dari perumusan pikiran yang ada mengenai siapa sebenarnya manusia, bagaimana hakekat dari manusa itu sendiri dan segala kaitan yang ada tentang seorang manusia. Ciri utama dari seseorang yang menganut paham filsafat adalah bahwa dia akan berfikir dengan cara menggunakan disiplin berfikir yang tinggi secara sistematis yang membentuk sebuah skema konsepsi yang menyeluruh.

Filsafat Manusia dan Berbagai Alirannya

1. Aliran Filasafat Idealisme
Aliran ini merujuk pad kata-kata idealisme yang merupakan sebuah keadaan yang memiliki keseimbangan dalam banyak hal. Pandangan tentang aliran ini belum terlalu lama dipergunakan oleh orang yang menganut paham filsafat.

Meskipun demikian ide dari pemikiran ini sudah pernah dikemukakan oleh Plato kurang lebih 2400 tahun yang lampau. Menurut Plato sebuah realitas yang paling mendasar atau fundamental adalah sebuah ide. Sedangkan kenyataan yang ada dan tampak sehingga bisa di indera oleh manusia merupakan bayangan yang ada dari sebuah ide tersebut.

Bagi kelompok yang menganut paham filsafat idealisme alam tempat hidup manusia ini merupakan sebuah jalan yang akan menuju pada sesuatu yang bersifat spiritual. Hokum yanga ada dialam ini dianggap telah sesuai dengan kondisi watak intelektual dan moral dari manusia yang ada.

Aliran ini juga memiliki pendapat bahwa manusia yang hidup mempunyai sebuah hubungan yang harmoni dengan alam sekitarnya. Manusia memang merupakan bagian yang tidak bisa terlepas dari proses alam, namun manusia juga memiliki sifat spiritual karena manusia telah dilengkapi dengan akal dan pikiran serta nurani.

Para pengikut paham ini memiliki kecenderungan menghormati dan menghargai budaya dan tradisi yang telah ada. Sebab menurut mereka bahwa nilai-nilai yang ada dalam kehidupan memiliki tingkat yang lebih baik dari pada hanya sekedar nilai kelompok yang ada pada individu. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kekuatan dari sebuah idealisme tergantung pada mental dan spiritual yang ada pada kehidupan manusia.

2. Aliran Filasafat Rasionalisme
Para penganut paham filsafat rasionalisme memiliki pandangan bahwa rasio atau akal adalah merupakan satu-satunya sumber pengetahuan yang bisa dipercaya dan dijadikan landasan dalam bertindak dan menentukan segala sesuatu.

Perkembangan ilmu pengetahuan yang mulai berkembang pesat pada sekitar abad 18 mendasari lahirnya aliran ini. orang yang dianggap sebagai pendiri aliran ini adalah Rene Descartez yang juga dikatakan sebagai bapak dari ilmu filsafatb modern. Semboyan yang terkenal dari para penganut aliran ini adalah cogito ergo sum yang memiliki arti saya berfikir, jadi saya ada.

Disamping Rene Descartez ada banyak tokoh lainya yang menjadi penganut aliran ini semisal John Locke, Basedow, dan J.J Rousseau. John Locke begitu terkenal dengan teori tabularasa hasil karyanya, dimana pengertian dari tabula rasa adalah bahwa setiapa manusia diciptakan dalam keadaan sama, seperti sebuah kertas putih yang masih kosong.

Sehingga tugas yang paling utama dari sebuah pendidikan formal adalah melatih dan mengajari seorang anak tentang kepandain dan penalaran. J.J Rousseau merupakan seorang tokoh pendidikan yang memiliki pandangan bahwa setiap anak musti dididik sesuai dengan kesiapan dan kemampuan dari sang anak dalam menerima pendidikan.

Jika Menurut J.B. Basedow sebuah pendidikan haruslah mampu untuk membentuk sebuah kebijaksanaan, kebahagiaan dan kesusilaan pada diri seorang anak.

3. Aliran Filasafat Humanisme
Aliran ini mulai tumbuh pada sekitar abad ke 15 pada masa kebangkitan kembali atau sering juga disebut masa renaissance di Italia. Aliran ini didukung dengan adanya berbagai macam penemuan yang berkembang pesat pad amasa itu, semisal mulai ditemukanya mesin cetak dan ditemukanya benua Amerika dan India oleh pelaut yang bernama Columbus dan Vasco De Gama.

Aliran humanis ini dikatakan sebagai aliran yang memiliki dua arah, yang pertama adalah humanisme individu sedangkan yang kedua adalah humanisme sosial. Humanisme yang bersifat individu lebih mengutamakan dan memberikan kemerdekaan dalam berfikir, mengungkapkan pendapat yang ereka miliki dan berbagai aktifitas lainya yang kreatif.

Kemampuan yang mereka miliki tersalurkan melalui penciptaan kesenian, musik, sastra, teknologi serta pengusaan mengenai ilmu kealaman. Sedangkan aliran Humanisme sosial lebih cenderung pada pengutamaan pendidikan bagi masyarakat secara keseluruhan untuk dapat memingkatkan kesejahteraan sosial yang ada serta memperbaiki hubungan antar manusia.

4. Aliran Filasafat Kritisme
Aliran Kritisme ini merupakan aliran yang menjadi penghubung antara pandangan rasionalisme dan pandangan empirisme. Tokoh yang terkenal dari aliran ini adalah Emmanuel Kant.

Emmanuel Kant memiliki pendapat bahwa baik aliran empirisme maupun rasionalisme masing-masing memiliki kekurangan karena adanya pernyataan dari keduanya yang bersifat sintetis analistis.


5. Aliran Filasafat Empirisme
Aliran ini merupakan sebuah filsafat manusia yang berpedoman pada kepercayaan yang telah dilalui melalui sebuah pengalaman. Pengalaman yang telah mereka lalui kemudian diolah oleh akal dan pikiran. Pengalaman inilah yang menjadi sumber pengetahuan karena pengalaman merupakan sebuah fakta yang yang terjadi di dunia.

Aliran ini berpendapat bahwa sesgala sesuatu atau sebuah pernyataan tidaklah dianggap sebagai sesuatu yang berarti jika tidak adapat dibuktikan memalui sebuah pengalaman. Penganut aliran ini yang terkanal antara lain Francis Bacon, dan Thomas Hobbes.

Rancis Bacon merupakan orang yang dianggap telah menetapkan dasar teori empirisme dan memberikan saran berupa pengujian segala macam penemuan dengan sebuah metode yaitu metode induksi. Menurut Francis Bacon ilmu yang ada akan berkembang dengan adanya eksperimen dan pengamatan serta mencatat fakta yang ada yang merupakan hasil dari eksperimen tersebut.

6. Aliran Filasafat Konstruktivisme
Tokoh dari aliran ini yang terkenal adalah Giambattista Vico dengan pendapatnya bahwa pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang merupakan sebuah hasil dari konstruksi indivu, melalui sebuah interaksi dengan fenomena, objek, lingkungan maupun pengalaman.Pengetahuan bukanlah sesuatu yang bisa diperoleh hanya dengan bersikap pasif namun harus dibangun secara aktif oleh seorang individu.

Filsafat manusia merupakan sebuah ilmu yang akan terus berkembang, jadi selain aliran-aliran yang tersebut diatas tidak menutup kemungkinan akan melahirkan aliran-aliran lain dimasa yang akan datang. Berikut ini beberapa tokoh pemikir yang menggeluti mengenai filsafat manusia ini, diantaranya:

• Sokrates Beliau merupakan seorang tokoh filsafat yang sangat terkenal dari Yunani. Sebuah ungkapan yang sangat terkenal dari tokoh ini adalah â€Å“ kenalilah dirimu sendiri”, sehingga banyak manusia yang merasa terdorong untuk terus berfikir untuk mengertahui siapa dirinya dan maksud dari kehidupanya di dunia.
Menurut Sokrates hakekat dari seorang manusia tidak bisa ditentukan dari adanya tambahan dari luar, namun semata tergantung pada peilaian diri.

• Plato
Tokoh yang satu ini menyebabkan terjadinya titik balik dari filafat yang ada karena memiliki cara tersendiri dalam menafsirkan seboyan kenalilah dirimu sendiri yang diungkapkan oleh sokrates.
Plato berpendapat bahwa manusia diumpamakan sebuah teks yang rumit sehingga dibutuhkan ilmu filsafat untuk menguraikan makna yang ada pada manusia tersebut.

• Soren Kierkegaard
Beliau merupakan bapak eksistensialisme yang berpandangan luas dalam pembahasan manusia terutama pada eksistensi dari seorang manusia.

• Jean Paul Sartre
Jean Paul Sartre berpendapat bahwa manusia merupakan sebuah proyek yang menuju masa depan yang tidak bisa untuk didefinisikan. Manusia adalah apa yang dilakukan oleh dirinya, sehingga moral dan etika harus dibentuk oleh manusia itu sendiri.

Filsafat Aristoteles

ilustrasi
Filsafat dalam sejarah perkembangannya dapat diklasifikasikan. Klasifikasi ini ditentukan berdasarkan letak geografis, budaya, wilayah hingga agama. Berdasarkan wilayah, filsafat dibagi menjadi 3, yaitu Filsafat Timur, Filsafat Timur Tengah, dan Filsafat Barat. Sedangkan klasifikasi berdasarkan agama, filsafat dibagi menjadi 4, yaitu Filsafat Islam, Filsafat Hindu, Filsafat Buddha, dan Filsafat Kristen.

Filsafat Aristoteles termasuk ke dalam klasifikasi Filsafat Barat karena ia berasal dari Yunani. Sebagaimana kita tahu bahwa Filsafat Aristoteles merupakan salah satu bagian terpenting dalam sejarah perkembangan ilmu Filsafat, khususnya Filsafat Barat. Hal ini didasarkan pada hasil-hasil pemikirannya yang begitu maju, bahkan dianggap mampu melampaui hasil pencapaian dari gurunya, Plato.

Filsafat Aristoteles dianggap lebih sistematis, sebagai sebuah gaya ilmu yang ideal bagi dunia akademisi. Karena pada umumnya, ilmu yang baik adalah ilmu yang disusun secara sistematis. Sehingga tidak mengherankan bahwa Filsafat Aristoteles mampu diterima dengan baik oleh kalangan akademisi.

Riwayat Hidup Aristoteles

Aristoteles dilahirkan di Yunani, tepatnya di kawasan Chalcidice, Thracia. Ia lahir tahun 384 SM dari seorang ayah bernama Machon yang berprofesi sebagai tabib pribadi raja Amyntas dari Macedonia. Saat berusia 17 tahun, ia belajar di sekolah Plato yang bernama Academia di kota Athena. Sekitar 20 tahun ia menimba ilmu di sekolahnya Filsuf terkemuka itu.

Di sana, ia mendalami berbagai disiplin ilmu, mulai dari etika, politik, matematika, dan lain sebagainya. Aristoteles dikenal sebagai sosok murid yang kutu buku, karena ia banyak membaca dan mengoleksi buku-buku hingga rumahnya dipenuhi dengan buku. Rumah Si Tukang Baca, itulah julukan yang diberikan oleh Plato terhadap rumah muridnya tersebut.

Selain itu, Aristoteles memiliki jiwa pemberontak yang lumayan tinggi. Hal ini terlihat dari seringnya ia mendebat gurunya sendiri (Plato). Konon, seringnya timbul perbedaan pendapat dan perselisihan itulah yang pada nantinya membuat hubungan antara guru dan murid tersebut menjadi retak. Bahkan, sebagian ahli menyatakan bahwa hubungan mereka berdua sebenarnya telah retak jauh sebelum Plato meninggal dunia.

Meskipun sering berbeda pendapat, tapi pengaruh sang guru bagaimanapun juga tetap berpengaruh bagi Aristoteles. Beberapa ahli menjabarkan tentang beberapa perbedaan (pendapat/pemikiran) antara Aristoteles dengan Plato sebagai berikut:

  • Plato adalah seorang idealistis serta utopian, sementara Aristoteles adalah sosok filsuf yang realistis, berpandangan utilitarian, dan commonsense.
  • Pemikiran Plato dianggap Aristoteles sebagai pemikiran yang tak berguna, karena ia menganggap pemikiran tersebut menduakan realita.
  • Plato bersifat antusias dan imajinatif. Sedangkan Aristoteles berorientasi pada observasi.
  • Pemikiran Plato kerap kali berdasarkan intuisi, sementara Aristoteles berdasarkan abstraksi.

Seperti itulah beberapa poin yang menunjukkan perbedaan antara Plato dengan Aristoteles. Setiap kali ia ditanyai perihal penentangan dirinya terhadap gurunya itu, Aristoteles menjawab Amicus Plato, sed magis amica veritas. Keretakan hubungan tersebut konon membuat Plato enggan mengangkat Aristoteles sebagai pemimpin pengganti di sekolah Academia, Plato akhirnya memilih Speusippos.

Plato meninggal tahun 347 SM. Di tahun itu pula Aristoteles meninggalkan kota Athena dengan ditemani oleh Xenokrates, teman sekelasnya. Mereka hidup berpindah-pindah. Mulanya di Atarneus, di sana ia bertemu dengan Hermeias yang kebetulan juga alumnus sekolah Academia. Hermeias yang merupakan penguasa Atarneus pun menyambut gembira kedatangan Aristoteles dan Xenakrates. Bahkan mereka berdua diminta mengajar di sekolah Erastos dan korikos yang juga merupakan murid Plato. Terlebih lagi, Aristoteles menikahi seorang anak angkat sekaligus kemenakan Hermeias yang bernama Pythias.

Sayangnya kebahagiaan kedua mempelai itu terenggut setahun kemudian tatkala daerah kekuasaan Hermeias direbut oleh Persia, dan Hermeias pun dibunuh. Kemudian Aristoteles sekeluarga pindah ke Mitylene atas undangan Theoprastus, rekannya semasa sekolah di Academia.

Hingga pada suatu ketika, ia diundang oleh Raja Philippos dari Maccedonia untuk mengajar putranya, Alexander, seorang pemuda yang sulit diatur dan temperamental. Di bawah bimbingan Aristoteles selama dua tahun, sang calon petinggi kerajaan itu berubah menjadi pria sekaligus pemimpin yang mahir dan terampil dalam berbagai bidang.

Ketika Alexander berkuasa, ia masih akrab dengan Aristoteles. Bahkan, menganggap Aristoteles sebagai ayahnya sendiri. Selain itu, Alexander juga sempat mendirikan sebuah sekolah yang dinamakan Lyceum (diambil dari nama salah satu gelar dari Dewa Apollo) dan berhasil menghasilkan karya-karya sains.

Namun, keakraban itu berubah menjadi sebuah petaka tatkala Alexander yang bersikap diktator selama berkuasa, harus menerima ketidaksetujuan Aristoteles atas kediktatorannya tersebut. Konon, Alexander pun sempat berniat untuk membunuh Aristoteles.

Keretakan hubungan tersebut semakin meruncing tatkala Alexander lengser dari jabatannya hingga ia harus mengungsi dari Athena. Ia sempat diisukan bersikap kurang ajar terhadap dewa dan dianggap atheis oleh beberapa kalangan. Pada usia 62 tahun, tak lama setelah pengungsiannya, ia meninggal dunia.

Pemikiran-Pemikiran Aristoteles

1. Metafisika

Karena Aristoteles memang cenderung berpikir secara empiris, pandangannya pun terhadap berbagai hal cenderung pada hal-hal yang konkret. Aristoteles mulai dari pengumpulan data dan fakta, menyusunnya ke dalam sebuah sistem berdasarkan ragam dan jenisnya, lalu mengaitkannya satu sama lain.

Dalam pandangan metafisika, ia berpendapat bahwa manusia mampu mencapai sebuah kebenaran. Baginya, tuhan berhubungan dengan diri sendiri. Dalam mencintai-Nya, kita tidak mengharapkan ia mencintai kita. Ia merupakan kesempurnaan paling tinggi dan kita sebagai manusia meneladaninya sebagai perbuatan serta pemikiran-pemikiran kita.

2. Etika

Menurut Aristoteles, etika adalah sebuah sarana untuk mencapai kebahagiaan serta merupakan elemen tertinggi dalam hidup manusia. Etika berfungsi untuk membimbing manusia agar dapat bersikap selayaknya dalam segala tingkah lakunya.

Etika Aristoteles tergolong dalam Etika Teleologis karena ia menghubungkan antara tindakan dengan sebuah dampak atau suatu tujuan tertentu, yaitu kebahagiaan. Dengan demikian, suatu tindakan akan dianggap baik bila mengarah pada kebahagiaan dan buruk bila tidak mengarah pada kebahagiaan.

3. Logika

Silogismte merupakan hasil pemikiran tertinggi Aristoteles dalam bidang ilmu logika. Silogisme berarti menarik sebuah kesimpulan berdasarkan kenyataan yang bersifat khusus. Pengetahuan dapat dihasilkan dengan dua cara, yaitu induksi dan deduksi, dan premis mayor dan premis minor.

4. Ilmu Alam

Menurut Aristoteles, kosmos terdiri atas 2 wilayah berbeda sifat, yaitu sublunar (bumi) serta wilayah tata surya yang meliputi bulan, planet, serta bintang-bintang. Ia pun menganggap bahwa jagat raya ini terbatas, berbentuk bulat serta tanpa permulaan dan akhir. Bumi menurut Aristoteles, terdiri dari 4 unsur, yaitu api, air, tanah, dan udara.

Pemikiran dan Filsafat Aristoteles yang telah dijabarkan di atas memang belumlah lengkap. Namun, setidaknya penjabaran di atas telah mampu menggambarkan garis besar pemikiran dan filsafatnya yang hingga kini masih sering dikaji dan dijadikan bahan rujukan. Selanjutnya >>

menjadi bijak

Para Nabi menjadi Nabi bukan lantaran ambisinya, bahkan sebelumnya Nabi Muhammad tak pernah berdialog tentang agama dengan sesamanya, namun sering bermeditasi dan berkontemplasi dengan menggiring ego ke titik nol di gua hira.

Filsafat Hidup

Bagaimana Filsafat membentuk kehidupan Anda

Minggu ini sempat males juga ngeblog gara-gara PR turun. Tapi ya sudah lah toh dari awal itu bukan tujuan utama. Daripada blog ini nganggur lebih baik meninjau kembali filsafat yang selama ini selalu dipegang teguh oleh komunitas the dark anco.Sambil merenung, nulis akh.

Setiap orang memiliki filsafat hidup baik itu disadari atau pun tidak. Filosofi ini sebagian besar ditanamkan ke dalam pikiran ketika kita masih anak-anak. Tepatnya dibentuk dalam tujuh tahun pertama masa kanak-kanak. Periode lain yang berpengaruh dalam pembentukan filsafat hidup adalah saat remaja. Sejak saat itu kebanyakan orang akan membuat sedikit perubahan sampai usia mereka menginjak 40 tahun atau 50 tahun lebih. Dalam periode ini beberapa orang mulai menilai dan mengkaji kembali filsafat mereka.

Filosofi ini merupakan bagian dari proses alam bawah sadar yang mempengaruhi setiap keputusan yang dibuat dan setiap tindakan yang diambil yang akibatnya adalah hasil yang dialami. Jadi dalam banyak hal filsafat hidup ini adalah sebagai preprogramming kehidupan.

Pada umumnya filosofi ini berasal dari beberapa faktor
  • Budaya

Faktor yang paling berpengaruh pada filosofi hidup adalah budaya di lingkungan tempat tinggal, khususnya lingkungan dimana seseorang lahir dan dibesarkan. Jika Anda lahir dan dibesarkan di Indonesia misalnya, Anda mungkin akan mengembangkan filosofi hidup yang sangat berbeda dari mereka yang dibesarkan di Amerika Serikat, Meksiko, Iran, atau Jepang.

Setiap budaya memiliki norma-norma tertentu yang meresap ke dalam pikiran bawah sadar orang-orang yang hidup dalam budaya itu. Ada perilaku tertentu yang dianggap normal dan ada norma tertentu yang dianggap tidak baik. Apa yang masuk ke dalam kategori normal dalam satu budaya juga dapat ditempatkan ke dalam kategori yang tidak baik dalam budaya lainnya.

Sekarang coba luangkan sedikit waktu anda untuk merenungkan seberapa banyak dari apa yang Anda anggap normal tapi sebenarnya hal itu sudah diwariskan kepada Anda oleh budaya tempat anda lahir dan dibesarkan.

  • Keluarga
Setiap keluarga tentunya memiliki budaya dan filsafat sendiri. Jika Anda menolak filosofi itu dan memilih untuk mengambil jalan yang berbeda maka Anda mungkin akan dianggap aneh oleh keluarga Anda. Budaya keluarga Anda mungkin mirip dengan budaya di lingkungan Anda pada umumnya. Akan tetapi, jika keluarga Anda berasal dari negara lain atau suku bangsa yang lain, budaya keluarga Anda mungkin sangat berbeda dengan budaya umum di sekitar Anda. Bentrokan dalam budaya seperti ini dapat mengakibatkan kebingungan, atau dalam kasus yang lebih ekstrim akan berakibat pada masalah psikologis.

Coba luangkan sedikit waktu untuk bertanya pada diri sendiri berapa banyak filosofi hidup Anda yang datang dari budaya keluarga Anda.

  • Pendidikan Agama (jika ada)
Jika seseorang memiliki pendidikan agama yang kuat maka filsafat agama akan masuk ke pikiran bawah sadarnya untuk bercampur ke dalam pengaruh-pengaruh filosofis lainnya yang telah ada.

Umumnya agama seseorang sebagian besar dipengaruhi oleh faktor dimana mereka dilahirkan, atau dimana keluarga leluhur mereka lahir, bukan pilihan sadar yang mereka buat sendiri.

  • Pendidikan
Peran sistem pendidikan formal adalah untuk menghasilkan warga negara yang baik. Dan demi terciptanya hal ini maka sistem pendidikan akan diisi dengan pesan-pesan filosofi yang halus dari apa yang telah dicanangkan oleh pemerintah untuk menghasilkan warga negara terbaik.

Filosofi yang mendasari setiap lembaga pendidikan mungkin berbeda, tergantung pada apakah itu adalah sekolah pemerintah, sekolah agama, atau sistem pendidikan alternatif lainnya. Masing-masing memiliki pandangan sendiri, filsafat sendiri dan tujuan sendiri.

  • Sosial

Dalam kehidupan bermasyarakat seseorang akan bercampur dalam kelompok sosial (masyarakat) tertentu. Biasanya anggota suatu kelompok sosial akan cenderung untuk terus bersama karena mereka memiliki filosofi yang sama pada kehidupan. Oleh karena itu kelompok yang selalu konsisten maka filsafat akan memperkuat mereka.

Jika Anda pindah ke sebuah kelompok sosial yang memiliki filosofi yang berbeda dari filosofi Anda sendiri maka kekuatan dari filosofi kelompok sosial tersebut akan menarik Anda ke arah itu.

Intinya filosofi kehidupan adalah bagian dari pikiran bawah sadar dan sangat berpengaruh pada jalan hidup seseorang. Namun, kebanyakan dari filosofi ini mungkin terbentuk tanpa disadari atau tanpa menimbang apakah ini akan meningkatkan kehidupannya atau tidak. Mungkin akan sangat berharga jika Anda meninjau filosofi Anda sendiri dan berpikir tentang dari mana asalnya dan seberapa baik ia melayani Anda.

Filsafat Pikiran dalam tradisi kontinental

Filsafat Pikiran dalam tradisi kontinental


Psikologi adalah ilmu yang menyelidiki keadaan mental secara langsung. Umumnya menggunakan metode empiris untuk menyelidiki keadaan mental yang konkret seperti sukacita, ketakutan atau obsesi. Psikologi meneliti hukum yang mengikat negeri-negeri mental untuk satu sama lain atau dengan input dan output untuk organisme manusia.

Contohnya adalah psikologi persepsi, yang mana para ilmuwan dalam hal ini telah menemukan prinsip-prinsip umum dari persepsi bentuk. Sebuah hukum psikologi mengatakan bahwa bentuk objek yang bergerak dalam arah yang sama dianggap berhubungan satu sama lain. Hukum ini menggambarkan hubungan antara input visual dan negeri persepsi mental. Hukum-hukum yang ditemukan oleh psikologi yang kompatibel dengan semua jawaban untuk masalah pikiran-tubuh yang sudah jelas.

Okay, sekarang kita akan fokus pada satu gaya atau tradisi filsafat dalam budaya Barat modern, biasanya disebut filsafat analitik (kadang- kadang digambarkan sebagai filsafat Anglo-Amerika). Banyak sekolah yang telah didirikan yang tergolong dalam label filsafat kontinental. Dalam kasus apapun, meskipun topik dan metode di sekolah-sekolah ini banyak (seperti fenomenologi, eksistensialisme, dll), namun dalam kaitannya dengan filsafat pikiran secara global dapat dibedakan dari sekolah analitik dalam hal 'bahwa mereka kurang fokus mengenai bahasa dan analisis logis', tetapi lebih fokus pada pemahaman eksistensi manusia dan pengalaman. Dengan mengacu pada pembahasan pikiran, persepsi dalam beberapa arti cenderung diterjemahkan sebagai upaya untuk memahami konsep-konsep pemikiran dan pengalaman tidak hanya melibatkan analisis bentuk-bentuk linguistik.

Dalam Fenomenologi Georg Wilhelm Friedrich Hegel of Mind, Hegel membahas tiga jenis yang berbeda dari pikiran: 'pikiran subjektif', pikiran individu; 'pikiran obyektif', pikiran masyarakat dan Negara; dan 'pikiran Mutlak' , suatu kesatuan dari semua konsep.

Di zaman modern, dua sekolah utama yang telah dikembangkan dalam menanggapi atau perlawanan terhadap tradisi Hegel adalah fenomenologi dan eksistensialisme. Fenomenologi, didirikan oleh Edmund Husserl, berfokus pada isi pikiran manusia dan bagaimana proses membentuk pengalaman fenomenologis kita. Eksistensialisme, sebuah sekolah pemikiran didirikan oleh S'ren Kierkegaard Dan Friedrich Nietzsche, berfokus pada isi pengalaman dan bagaimana penawaran pikiran dengan pengalaman.

Sebuah contoh (meskipun tidak terlalu dikenal) dari seorang filsuf dan ilmuwan pikiran kognitif yang mencoba untuk mensintesis ide-ide dari kedua tradisi adalah Ron McClamrock. Meminjam dari Herbert Simon dan juga dipengaruhi oleh ide-ide dari fenomenolog eksistensial seperti Maurice Merleau-Ponty dan Martin Heidegger, McClamrock menunjukkan bahwa kondisi manusia 'menjadi-di-dunia- ("Dasein", "In-der-welt-sein") membuat mustahil bagi mereka untuk memahami diri sendiri dengan abstraksi jauh dari itu dan memeriksanya seolah-olah objek percobaan terpisah yang mereka sendiri tidak merupakan bagian integral.

Filsuf lainnya adalah Sean Dorrance Kelly, Profesor dan Ketua Filsafat di Harvard. Kelly, yang telah mempelajari Filsafat Prancis dan Jerman abad ke-20, Filsafat Pikiran, serta Filsafat Cognitive Science, dapat dilihat sebagai bangunan atas karya Hubert Dreyfus mentornya, seorang eksistensialis yang menjadi rekannya dalam perdebatan yang luas tentang isu- isu filsafat selama beberapa dekade di Berkeley, John Searle.


Tradisi Timur seperti Buddhisme tidak berpegang pada model dualistik pikiran / tubuh tetapi menegaskan bahwa pikiran dan tubuh adalah entitas yang terpisah. Sebagian Buddhisme tertentu tidak berpegang pada gagasan tentang jiwa, atau atman. Sebagian Buddhisme yang lain menyatakan bahwa tingkat yang sangat halus dari pikiran meninggalkan tubuh pada saat kematian dan pergi ke kehidupan baru. Menurut sarjana Buddhis Dharmakirti, definisi pikiran adalah kejelasan dan cognizes. Dalam definisi ini, 'kejelasan' mengacu pada sifat dari pikiran, dan 'cognizes' pada fungsi pikiran. Pikiran adalah kejelasan karena selalu memiliki bentuk dan karena itu memiliki kekuatan yang sebenarnya untuk melihat objek. Pikiran cognizes fungsinya adalah untuk mengetahui atau melihat objek. Dalam the Ornament of Seven Sets, sarjana Buddhis Khedrubje mengatakan bahwa pikiran, kesadaran dan cognizer adalah sinonim. Sang Buddha menjelaskan bahwa meskipun pikiran tidak memiliki bentuk, pikiran tetap mempunyai kekuatan untuk membentuk. Jadi, pikiran kita berhubungan dengan tubuh kita dan "berada" di tempat yang berbeda di seluruh tubuh. Hal ini harus dipahami dalam konteks bagaimana kesadaran akal lima dan kesadaran mental dihasilkan. Ada berbagai jenis pikiran - awarenesses akal, awarenesses mental, pikiran kotor, pikiran halus, dan pikiran sangat halus - dan mereka semua tak berbentuk (kurang bentuk, warna, suara, bau, rasa atau sifat taktil) dan mereka semua berfungsi untuk memperhatikan atau tahu. Tidak ada hal seperti pikiran. Meskipun tidak satupun dari pikiran adalah bentuk, mereka dapat berhubungan untuk membentuk.

Pandangan al_Farabi terhadap logika

     Sahabat ANCOREZ semua, seperti yang sudah kita ketahui bahwa Al-Farabi merupakan seorang tokoh besar filsafat. Selain berfokus pada filsafat, Al-Farabi juga memberikan perhatian khusus terhadap logika/mantiq. * Yuk kita lihat bagaimana pandangan Al-Farabi terhadap logika !! *

     Dalam masalah logika Al-Farabi banyak meninggalkan karya-karyanya. Tapi sayangnya karya-karyanya tersebut tidak sampai kepada kita, kecuali buku yang berjudul Syarh Kitab al-Ibarah li Aristoteles (Penjelasan Terhadap Buku al-Ibarah dari Aristoteles), dan beberapa karangan singkat dalam buku Tahsil as-Sa'adah serta Ihsha-ul 'Ulum. Nampaknya dalam masalah logika al-Farabi banyak mengikuti Aristoteles. Pandangan-pandangannya tentang logika adalah sebagai berikut:
  1. Definisi logika : Logika adalah ilmu tentang pedoman (peraturan) yang dapat menegakkan pikiran dan menunjukannya kepada kebenaran dalam lapangan yang tidak bisa dijamin kebenarannya. Dalam lapangan pemikiran ada hal-hal yang tidak mungkin salah, *jadi selalu benar* , dimana seseorang seolah-olah memang dijadikan untuk mengetahui dan meyakininya. Seperti hukum yang mengatakan bahwa keseluruhan lebih besar daripada sebagian.
  2. Tujuan Logika : Tujuan logika adalah agar kita dapat membetulkan pemikiran orang lain, atau agar orang lain dapat membenarkan pemikiran kita, atau kita dapat membenarkan pemikiran kita sendiri.
  3. Pokok pembahasan logika : Pokok pembahasan logika adalah segala macam pemikiran yang bisa dicurahkan dengan kata-kata, dan juga segala macam kata-kata dalam kedudukannya sebagai alat untuk menyatakan pikiran.
  4. Bagian-bagian Logika : Logika terdiri dari delapan bagian, yaitu Kategori; Kata-kata; Analogi pertama (al-qiyas); Analogi kedua; Debat; Sofistika; Retorika; dan Poetika.
Pembagian qiyas (kias/analogi pertama) menurut al-Farabi:
  1. Qiyas-burhani, yaitu kias yang memberikan keyakinan.
  2. Qiyas-jadali, yaitu kias yang terdiri dari hal-hal yang sudah terkenal dan biasa diterima. "Yang terkenal" ialah apa yang sudah diketahui dan dipercayai oleh orang banyak, seperti keadilan itu baik dan mencuri itu buruk. "Yang biasa diterima" ialah pikiran yang diterima oleh orang lain, baik terkenal ataupun tidak. Unsur terpenting bagi apa "yang biasa diterima" adalah kepuasan orang lain, meskipun sebenarnya salah. Qiyas-jadali juga dipakai untuk menimbulkan dugaan-dugaan kuat yang mendekati yakin pada diri seseorang.
  3. Kias sofistika, yaitu kias yang menimbulkan sangkaan bahwa sesuatu yang tidak benar kelihatan benar atau sebaliknya.
  4. Qiyas-khatabi, yaitu kias yang menimbulkan dugaan yang tidak begitu kuat.
  5. Qiyas-syi'ri, yaitu kias yang memakai perasaan dan khayalan untuk dapat menarik orang lain.

akal vs wahyu

"Setiap temuan baru sains adalah penyingkapan lebih lanjut tatanan yang Tuhan telah tanamkan di alam semesta milik-Nya"



    Pada posting sebelumnya saya tegaskan bahwa tidak semua filsafat adalah sesat. Lantas bagaimana sikap akal terhadap wahyu!? Bagaimana hubungan filsafat dengan agama?

Read more »

HUKUM MEMPELAJARI FILSAFAT

   Pada artikel filsafat menurut Al-Fa'raby ada seorang sahabat ancorez yang bertanya "apakah filsafat Al-Fa'raby itu sesat?".
Saya ucapkan banyak-banyak terimakasih untuk pertanyaan itu. Karena pertanyaan itu menginspirasi saya untuk membuat posting ini. Oke, kita mulai saja...

Bagaimana hukum mempelajari filsafat menurut agama?
  Dalam hal ini ada tiga pendapat para ulama. Pendapat pertama mengatakan bahwa hukum nya adalah haram karena filsafat tidak akan terlepas dari sesatnya kaum fulasifah. Pendapat ini dimotori oleh Ibnu Ash-Sholah dan An-Nawawi. Pendapat kedua mengatakan bahwa hukumnya adalah jaiz (boleh), karena beberapa alasan. Sedangkan pendapat ketiga mengatakan bahwa hukumnya adalah wajib. Sebab bagaimana kita bisa mengetahui titik kesesatan fulasifah jika kita tidak mempelajarinya. Pendapat ini dimotori oleh Ibnu Rusyd dan beberapa ulama lainnya. Menurut Ibnu Rusyd, fungsi filsafat tidak lebih dari mengadakan penyelidikan tentang alam wujud dan memandangnya sebagai jalan untuk menemukan Zat yang membuatnya.
   Saya pribadi sependapat dengan pendapat ketiga. Sebab al-Qur'an berkali-kali memerintahkan demikian, diantaranya dalam surat al-A'raf, ayat 185:
"Apakah mereka tidak memikirkan tentang (yandhuru fi) alam langit dan bumi dan segala sesuatu yang dijadikan oleh Tuhan?".


Juga dalam surat al-Hasyr ayat 2 disebutkan:
"Hendaklah kamu mengambil ibarat (i'tibar; mengadakan qiyas=sillogisme), wahai orang-orang yang mempunyai pandangan".


   Ayat terakhir ini dengan jelas mengharuskan kita untuk mengambil qiyas 'aqli (sillogisme), atau qiyas 'aqli dan qiyas syar'i (qiyas menurut fiqh) bersama-sama. I'tibar dan nadhar yang dimaksudkan oleh kedua ayat tersebut adalah pengambilan suatu hukum yang belum diketahui (majhul) dari suatu hukum yang sudah diketahui (ma'lum), dan inilah yang disebut qiyas. Jadi kita harus mengarahkan pandangan kita pada alam wujud ini dengan qiyas 'aqli. Karena itu penyelidikan yang bersifat filosof menjadi suatu kewajiban.
   Kalau seorang faqih berdasarkan ayat 2 dalam surat al-Hasyr tersebut di atas menetapkan adanya qiyas syar'i (qiyas dalam fiqih), maka berdasarkan ayat itu pula seorang filosof berhak menetapkan qiyas 'aqli. Kalau dikatakan bahwa qiyas 'aqli itu adalah suatu bid'ah, karena tidak ada pada masa permulaan islam, maka qiyas syar'i pun suatu bid'ah pula, karena memang tidak ada pada masa tersebut. Tapi meskipun demikian, tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa qiyas syar'i adalah bid'ah.
   Kalau pengambilan qiyas 'aqli diwajibkan oleh syara' maka seorang ahli pikir harus mempelajari logika dan filsafat, meskipun itu adalah logika Aristoteles dan filsafat Yunani yang tidak berketuhanan. Kalau ada orang yang sesat karena mempelajari filsafat, hal itu bukan karena salahnya filsafat, tapi karena tidak adanya kesediaan (kesanggupan) untuk berfilsafat, atau karena ia mempelajarinya tanpa seorang guru. Tidak ubahnya seperti seorang yang minum air dingin, kemudian terseduk dan mati karenanya. Mati karena terseduk air adalah suatu kejadian insidentil atau pengecualian, begitupun orang yang sesat karena mempelajari filsafat adalah bukan merupakan suatu kelaziman.
   Jadi perlu diingat sob !!
Bahwa tidak semua filsafat itu sesat, tergantung pada pribadi kita masing-masing.
Dan kewajiban mempelajari filsafat adalah untuk orang-orang yang mempunyai pandangan, yakni orang-orang yang akan memperdalam Al-Qur'an dan Al-Hadist..

Filsafat menurut Al-Fa'rabi

  Hay sob...!! Tahukah kamu siapa Al-Fa'rabi..?? Beliau adalah salah satu peletak batu pertama filsafat dalam islam. Nah, bagaimana pandangannya terhadap filsafat?? Yuk kita bongkar !

  Bagi Al-Fa'rabi, tujuan filsafat dan agama adalah sama. Loh kok bisa ya ?? Yaitu untuk mengetahui semua wujud. Hanya saja filsafat memakai argumen-argumen yang yakini dan ditujukan pada golongan tertentu, sedangkan agama memakai cara iqna'i (pemuasan perasaan) dan kiasan-kiasan serta gambaran, dan ditujukan kepada semua orang, bangsa dan negara. Mengenai pengertian filsafat, beliau mengatakan bahwa filsafat adalah mengetahui semua yang wujud karena ia wujud (al-ilm bil maujudat bimahiya maujudah). Tentang obyeknya, Al-Fa'rabi membaginya pada dua bagian.

  Pertama, al-falsafah an-nadhariyyah (filsafat teoritis), yaitu mengetahui sesuatu yang ada, dimana seseorang tidak perlu mewujudkannya dalam perbuatan. Bagian ini meliputi matematika, fisika dan metafisika. Masing-masing dari bagian tersebut mempunyai bagian-bagian lagi yang hanya perlu untuk diketahui saja.

  Kedua, al-falsafah al-'amaliyyah (filsafat praktis), yaitu mengetahui sesuatu yang seharusnya diwujudkan dalam perbuatan dan yang menimbulkan kekuatan untuk mengerjakan hal-hal yang baik. Bagian ini adakalanya berhubungan dengan perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh setiap orang, disebut ilmu akhlak (etika), dan adakalanya berhubungan dengan yang seharusnya dilakukan oleh penduduk suatu negeri, disebut politik. *tapi tidak termasuk korupsi loh...hehehe*

  Tujuan terpenting mempelajari filsafat, menurut Al-Fa'rabi, adalah mengetahui Tuhan, bahwa Ia Esa dan tidak bergerak, bahwa Ia menjadi sebab yang aktif bagi semua yang ada, bahwa Ia yang mengatur alam ini dengan kemurahan, kebijaksanaan dan keadilan-Nya. Seorang filosof adalah orang yang mempunyai pengetahuan tentang Zat yang ada dengan sendirinya (al-wajib li dzatihi). Wujud selain Tuhan, yaitu makhluk, adalah wujud yang tidak sempurna. Oleh karena itu, pengetahuan tentang makhluk adalah pengetahuan yang tidak sempurna.

  Mengenai ilmu mantiq, Al-Fa'rabi menganggapnya sebagai alat filsafat, bukan merupakan salah satu bagian dari filsafat. Ia mengatakan bahwa filsafat hanya bisa tercapai dengan kepandaian membedakan antara benar dan salah, dan kepandaian ini hanya bisa tercapai dengan kekuatan pikiran dalam mengetahui kebenaran. Kekuatan pikiran hanya bisa terwujud manakala kita memiliki kesanggupan untuk mengetahui bahwa sesuatu yang salah adalah salah, dan kemudian kita menjauhinya; sanggup pula mengetahui kesalahan yang kelihatan benar, kemudian kita tidak akan tertipu; sanggup pula mengetahui hal yang hakikatnya benar namun tampak salah, kemudian kita tidak akan menyalahkannya. Ilmu yang dapat memberi kesanggupan yang demikian itu adalah ilmu mantiq.

  Perlu diingat sob...!!
Mantiq memang menjamin kita lurus dalam berfikir, tapi tidak menjamin akan kebenaran, karena kebenaran hanya milik Allah SWT. Tapi setidaknya dengan mantiq akan memperkecil kemungkinan kita tersesat kejalan syetan, karena seorang mantiqy akan mempunyai disiplin yang tinggi dalam berfikir mencari kebenaran.

whether Arabic Philosophy or Islamic Philosophy ??

   Hello friends, the lovers of philosophy... You think, the philosophy adopted by Muslims that Islamic philosophy or Arabic philosophy ?
Hayoo...do  you know ??
Let no wonder... Let's just peeled !!


  I am inspired by many writers on philosophy are not the same as in giving a name to the philosophy used by Muslims, each of them some call "Islamic philosophy", and some are called "Arabic philosophy". Among writers who call it "Arabic Philosophy" is Emile Brehier in her book Histoire de la Philosophie <(History of Philosophy), and Lutfi al-Sayyid also use the term in its translation of the book Prolegomena Aristotle : Ethics for Nikomakus.
   The writer who uses the term "Islamic Philosophy" among others are Max Horten,German scholar in Islamic matters, and also the author of article "Philosophy" in the Encyclopedia of Islam; De Boer in his book TheHistory of Philosophy in Islam , Gauthier in his book Introduction a' l'etude de la PhilosophieMusulmane (Introduction to Philosophy of Islamic Studies), and Carra de Vaux in his book Les Penseur de l'Islam.
   The reason they use the term "Islamic philosophy" is because most of the characters are not of Semitic descent, that is not the Arab nation. So therefore, the philosophy associated with Islam.
   Carlo Nallino that can be said as one of the user group the term "Arabic philosophy", in his description of Arabic astronomy in the Middle Ages says:
   "if anyone objected to the term and said that "the Muslims" is more appropriate than "Arab", then I say it is not appropriate, for two reasons:
  • First, the word "the Muslims" will remove the Christians, Jews, Sabi'ah religious believers and other religions, who had no small part in the development of science and Arabic works, especially in the areas of mathematics, astronomy, medicine and philosophy.
  • Second, with the word "Muslims" then we should also discuss the works not written in Arabic, like Persian, Turkish ...
   So a more precise is to agree what that is widely used among modern writers, namely to use the word "Arab" in the term,that is attributed to the language of such works, not to a people ...
   So what is meant by the Arab philosophy by Carlo Nallino is philosophy written in Arabic...heuheu the Gaptek jump to conclusions alone.....no problem...

back to topic......!!!

   Actually the difference terms are only limited differences in name only, because after all, philosophy of life and the growing proliferation of these are under the umbrella of Islam, and most of his work written in Arabic. But if the meaning of Arabic philosophy is solely the work of the Arab nation, then it's not true. Because in fact, Islam has been uniting the various nations, and all have participated and contributed in the progress of philosophy.
   And if only the term "Islamic philosophy" is merely the result of Islamic thought, and even contrary to history. Since pre-Islamic Arabs first, influenced by the teachings of Nestorius and Jacobitas from Christian groups, Jews and adherents of religions Sabi'ah. Automatic in their socializing is always associated with the Christians and Jews who lived in his time. And socialization are more or less influence in the field of philosophy.

baha
   After my review, I am careful and I observe...(jieeeh... language such as the intellectuals have you Gaptek..)Philosophy is more accurately described using the term "Islamic Philosophy"... remember that Islam is not just a religious observance of procedures governing, but also beautify the religious culture, especially the Arab culture. And philosophy are certainly influenced by culture. In itself the Islamic culture has very detailed teaching. Both of its problems, motives and objective guidance. Islam has been mixing and accommodate cultural diversity and unity of thought in one....Let's unite !!

how do you think?
whether Arab Philosophy?
Or Islamic Philosophy?

© 2013 The dark anco. All rights reserved.
Powered by Ancorez